Tips Memborongkan Pelaksanaan Membangun Rumah


Diposkan : 18 Junii 2014
Oleh : Endang Kusman

Tujuan orang memborongkan pelaksanaan membangun rumah pada umumnya orang tertentu tidak mau pusing dan ingin terima beres tanpa disibukan untuk membeli material, membayar orang kerja, melayani permintaan pinjaman pekerja dan banyak lagi tetek bengek yang memusingkan. Terlebih lagi jika sipemilik rumah adalah orang super sibuk dalam mengurus bisnis atau bekerja sebgai orang sibuk di tempat bekerja.

Tetapi dalam kenyataannya hasil pekerjaan ketika bangunan sudah selesai tidak selalu berjalan mulus, hasilnya tidak selalu sesuai dengan harapan, rencana, dan keinginan. Atau bahkan berakhir dengan kekecewaan dan penyesalan sebagai akibat ketidak sesuaian apa yang diharapkan.

Apalagi ketika dikomplain kepada pemborong yang mengerjakannya tidak ada penyelesaian secara baik-baik dan kekeluargaan, atau bahkan ketika diusut secara hukumpun tidak dapat diselesaikan..karena tidak didukung oleh data-data serta sistem dan prosedur kerja borongan. Yang dilakukan hanya berdasarkan kepercayaan, tanpa gambar rencana yang matang, bahkan tidak ada kontrak kerja yang menjamin secara hukum kedua belah pihak. Dalam hal ini yang sangat dirugikan adalah sipemilik rumah.

Kejadian seperti itu sering terjadi. Tapi tidak semua pemborong melakukan hal yang sama, mungkin lebih banyak pemborong yang beritikad baik, lebih banyak pemborong yang profesional dan berwawasan jauh ke depan, menjaga reputasi dan lebih mementingkanservice dan layanan ketimbang profit semata.

Namun, sebaiknya kita, siapa saja yang akan membangun rumah dengan sistem kerja borongan perlu berhati-hati menjaga kemungkinan yang tidak diharapkan, caranya dengan melakukan prosedur yang benar, diantaranya sebagai berikut:

  1. Persiapkan secara matang gambar rencana dan detail bangunan rumah yang akan kita bangun;
  2. Rencanakan anggaran biayanya (RAB) dengan cermat, mulai dari volume pekerjaan, bahan material yang akan digunakan, spesifikasi setiap pekerjaan harus jelas;
  3. Lakukan seleksi penunjukan pihak yang akan memborong dengan menilai hal-hal yang penting dimiliki oleh pemborong, seperti bonafiditas keuangan, pengalaman membangun rumah, telah membayar pajak-pajak perusahaan, dsb dengan menunjukan bukti-bukti otentik;
  4. Kesanggupan melaksanakan pekerjaan sesuai jadwal, sesuai gambar rencana dan Bill of Quantity (BQ) dengan pernyataan bermaterai;
  5. Menandatangani kesepakatan kontrak kerja yang secara hukum mengikat kedua belah pihak;
  6. Menunjuk seorang Pengawas pelaksanaan yang ahli dan berpengalaman.

Dengan melakukan hal-hal dan prosedur tersebut, semua menjadi jelas dan transparan apa dan kewajiban masing-masing pihak, serta kedua belah pihak akan terlindung secara hukum, sehingga seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau penyimpangan salah satu pihak, maka bisa diselesaikan secara hukum jika penyelesaian secara baik-baik dan kekeluargaan tidak tercapai kata sepakat.

Itulah tips singkat kalau kita akan melaksanakan pembangunan rumah dengan sistem kerja borongan. Walaupun pemborong tersebut adalah saudara, sebaikny kita tetap melakukan prosedur tersebut.. sebab kalau sudah menyangkut uang itu tidak ada saudara.




 

www.softwarerab.com