Rumah Tinggal Selalu Dibutuhkan Sepanjang Masa


Rumah tinggal merupakan kebutuhan pokok manusia setelah kebutuhan sandang dan pangan, oleh karena itu kebutuhan akan rumah tinggal tidak akan pernah berhenti sepanjang masa, selama masih ada manusia dilahirkan.

Setiap ada sepasang insan melangsungkan pernikahan, artinya sebuah rumah segera diperlukan. Bisa dibayangkan berapa puluh atau ratus pasangan insan yang melangsunkan pernikahan pada setiap hari di seluruh wilayah Indonesia? Setiap hari pasti ada orang membangun rumah.. baik di pedesaan, di perkotaan, atau dimana-mana.

Kebutuhan akan rumah tidak akan pernah terhenti mengikuti laju pertumbuhan penduduk. Akibat dari hal tersebut, lahan produktif semakin lama akan berubah fungsi menjadi pemukiman penduduk. Hal ini sudah terlihat baik di perkotaan maupun di pedesan. Yang paling terlihat di wilayah perkotaan, lahan-lahan produktif milik penduduk, baik sawah maupun ladang sedikit demi sedikit berubah menjadi pemukiman, baik yang dibangun sendiri penduduk..atau yang dibangun oleh para pengembang pemukiman.

Oleh karena itu tidaklah heran apabila harga rumah di perkotaan semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat kalangan ekonomi menengah ke bawah. Begitu pula harga tanah untuk membangun rumah setiap tahun selalu meningkat.

Dengan semakin tidak terjangkaunya harga rumah oleh masyakat perkotaan, maka rumah sewa dan rumah kontrakan semakin diperlukan dan semakin laris, sebab hanya menyewa atau mengontrak yang paling memungkinkan bagi pemeuhan kebutuhan masyarakat kecil di perkotaan. Hal tersebut bisa dilihat di areal kawasan industri dimana ribuan rumah petak ada di sana.

Hal tersebut mungkin tidak pernah dialami dan dirasakan oleh masyakat pedesaan yang yang jauh dari kota. Sebab di sana setiap penduduk dapat dipastikan dapat memiliki rumah, walaupun sekecil atau sesederhana apapun. Sebab di wilayah pedesaan yang jauh dari kota, di lereng-lereng gunung harga tanah untuk rumah sangat murah, dan bahan bangunan seperti kayu, bambu, batu dan pasir kadang-kadang tidak perlu membeli mahal.

Sebagai contoh, di kampung halaman saya di wilayah pedesaan kota Sumedang , di lereng gunung. Di sana masih ada harga tanah untuk rumah mulai 100 rb s/d 400 rb rupiah/per bata (1 bata = 14 m2), Anda bisa menghitungnya berapa rupiah per meter persegi? Berarti masih ada harga tanah untuk rumah setara harga sebungkus rokok bukan? bandingkan dengan harga tanah di perkotaan, misalkan tahah kavling!

Oleh karena itu berbhagialah bagi penduduk pedessaan yang jauh dari kota. Mereka sudah terbiasa hidup sangat sederhana dan mereka tidak merasakan betapa sengsaranya hidup di perkotaan sebagai masyarakat kecil yang selamanya tidak pernah dapat merasakan memiliki rumah sendiri.




 

www.softwarerab.com